Golkar Cabut Dukungan, Selamatkan Ridwan Kamil Menuju Gedung Sate?

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
OLEH AENDRA MEDITA KARTADIPURA *)
Kabar bahwa DPP Partai Golkar mencabut dukungan bagi Ridwan Kamil sebagai calon gubernur dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat (Pilgub Jabar) 2018. Lumayan mengejutkan. Tapi tak seseram “gagal”-nya Ridwan Kamil untuk maju ke Gedung Sate.
 
Pencabutan dukungan ini dilakukan Golkar menjelang Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) yang digelar untuk mengukuhkan Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum menggantikan Setya Novanto. Pencabutan dukungan Ridwan Kamil beredar luas dan hampir semua kalangan kaget. Kagetnya karena Golkar nikin manuver ini ditengah-tengah usai aksi #pedulipalestine.
 
Surat keputusan DPP Partai Golkar tertanggal Minggu 17 Desember 2017) bernomor R-552/GOLKAR/XII/2017 itu ditandatangani Ketum Airlangga Hartarto dan Sekjen Idrus Marham. Dalam surat itu, DPP Golkar menindaklanjuti syarat dukungan yang diberikan kepada Ridwan Kamil, yakni untuk segera menetapkan pasangan calon wakilnya, Daniel Mutaqien Syafiuddin sampai batas waktu 25 November 2017. Namun sampai batas waktu dimaksud, bahkan sampai saat ini, Ridwan Kamil belum memutuskan calon wakilnya sebagaimana tertuang dalam surat rekomendasi saat itu ditanda tangan Ketum Setya Novanto dan Sekjennya Masih Idrus Marham dengan Nomor R-485/GOLKAR/X/2017.
 
Atas dasar itu, DPP Golkar memutuskan untuk mencabut dan menyatakan tidak berlaku surat rekomendasi dukungan tertanggal 24 Oktober 2017 tersebut.
 
Selain itu, DPP Golkar juga akan menyampaikan pencabutan dukungan ini kepada Ridwan Kamil, Daniel Mutaqien, serta pihak-pihak terkait.
 
Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPD Golkar Jawa Barat MQ Iswara mengatakan, Ketua DPD Golkar Jabar Dedi Mulyadi sudah mengetahui soal pencabutan dukungan terhadap Ridwan Kamil di Pilgub Jabar 2018. Dan Dedy Mulyadi sudah mengetahui adanya surat ini. Saat ini Dedi Mulyadi ada di Jakarta untuk mengikuti Rapimnas dan Munaslub Golkar yang berlangsung hari ini sampai Kamis, kata Iswara kepada media Ahad (17/12) malam.
 
DPD Golkar Jabar menerima surat keputusan pencabutan dukungan dari DPP Golkar. Alasan pencabutan yang disampaikan sudah tertuang dalam surat keputusan tersebut diatas tadi.
 
Politik itu Cepat
 
Politik itu harus cepat. Kegagalan Ridwan Kamil karena tidak cepat, menurut Waksekjen bahwa salah satu alasan Golkar mencabut dukungan ke Ridwan Kamil adalah karena Emil tak kunjung menunjuk Daniel Muttaqien sebagai Cawagub. Padahal, Golkar telah memberi waktu Emil hingga 25 November 2017 untuk menentukan Cawagub. “Tidak ada dinamika, semua setuju (dukungan untuk Emil dicabut),” jelas Wasekjen Golkar katanya di kutip Kumparan.
 
Inilah yang mungkin dianggap tidak cepat, bayangkan menentukan Wakil saja Emil alot atau selalu mikir-mikir, tapi memilih Partai Nasdem yang langsung Deklarasi begitu cepat. Sebenarnya partai pendukung Emil juga ada yang sudah mengancam akan menarik yaitu PPP yang sejak 5 sebenarnya sudah sempat menegur Emil tentang keputusan Wakil ituitu dan sempat mengancam tarik dukungan
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sejak mendukung Emil jadi Gubernur Jabar meminta agar Ridwan Kamil memilih pendamping dari PPP yakni Uu Ruzhanul Ulum Bupati Tasikmalaya.
 
PPP bahkan secara tegas disampaikan Ketua Umum PPP Romahurmuziy jika tak kunjung menentukan pendampingnya dan banyak mengumbar janji kepada partai politik yang juga menyodorkan kadernya untuk mengisi posisi wakil.
maka akan menarik dukungan Emil (5/12/2017). Pun saat ini PPP sedang mempertimbangkan kembali apakah dukung sosok Ridwan Kamil setelah Golkar menarik dukungan dan beralih signalnya ke Dedi Mulyadi
 
Kami di Pusat Kajian Komunikasi Politik Indonesia (PKKPI) melihat Emil memang belum kandas. Masih bisa diselamatkan untuk menuju ke Gedung Sate dalam tarung di Pilgub Jabar 2018?
 
Analisa saya kasus pencabutan ini bukan jalan buntu atau malah bikin Ridwan Kamil patah arang. Karena Ridwan Kamil adalah sosok yang sebenarnya sudah mumpuni.
 
Kepedeannya tak usah diragukan lagi. Ia sudah Deklarasi lebih dulu bahwa ingin maju jadi Gubernur Jabar bersama Nasdem. Bahkan beredar video di salah satu pesantren kenapa dia mau maju di usung partai Nasdem, karena ada alasannya pertama Nasdem Punya Media dan Nasdem ada Kejaksaan Agung. (baca: http://jabarhiji.com/2017/05/20/inilah-video-ridwan-kamil-mengaku-ingin-maju-ke-gedung-sate-bersama-nasdem-karena-punya-media-dan-kejaksaan/)
 
Hal lainnya sosok Ridwan Kamil mungkin paling siap maju di bursa Pilgub Jabar 2018. Namanya populer bukan sekadar di kota Bandung. Dia sangat moncer di dunia maya, karena selain paling gaul di sosmed. Dia juga punya ide-ide baik dalam penataan kota.
 
Walikota kota Bandung yang banyak taman ini meski yang lainnya agak terbengkalai, semisal pedagang kali lima (PKL) Cicadas dan Pagarsih atau Astana Anyar yang sampai kini di Bandung masih sarumpek alias kumuh belum tersentuh maksimal.
 
Tapi konsep BDGJuara adalah idenya dan BDGJUARA cukup dengan menutup para PKL Cicadas itu dengan Spanduk Digital Printing membentang di sekitar Cicadas (kawasan Ahmad Yani). Cicadas tetap berlalu dan PKLnya tetap bikin kumuh, konsep tekno bergerak di Bandung Timur dan rencana mimpi yang hebat.
 
Belum lama juga beredar bahwa ada Kiara Artha yang akan di bangun di pojokan Jalan Jakarta Bandung dibawah jembatan layang terkenal Antapani itu.
 
Sosok walikota satu ini sangat terkenal Lahir di Bandung pada tanggal 4 Oktober 1971, ia paling suka imajinasi sejak masa kecil bacaannya komik dan melihat foto kota-kota dunia. Maka tak heran di Institut Teknologi Bandung (ITB) ia kuliah jurusan Teknik Arsitektur 1990 dan lulus 1995.
Lulus dari ITB, ia bekerja di Amerika Serikat dan mendapat Beasiswa di University of California, Berkeley untuk S2 di Univesitas tersebut. Ia mendirikan Urbane, firma yang bergerak dalam bidang jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain, sejumlah gedung di Jakarta dia arsiteki. Ia menjabat sebagai Prinsipal PT. Urbane Indonesia, Dosen Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung, serta Senior Urban Design Consultant SOM, EDAW (Hong Kong & San Francisco), dan SAA (Singapura).
 
Namanya makin moncer saat ia ikut kompetisi di bidang desain arsitektur tingkat nasional seperti Juara 1 kompetisi desain Museum Tsunami di Nangro Aceh Darrussalam tahun 2007, Juara 1 kompetisi desain kampus 1 Universitas Tarumanegara tahun 2007, Juara 1 kompetisi desain Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Indonesia tahun 2009, juara 1 kompetisi desain Sanggar Nagari di Kota Baru Parahyangan di Kabupaten Bandung Barat dan juara 1 kompetisi desain Pusat Seni dan Sekolah Seni di Universitas Indonesia tahun 2009.
Ridwan kamil kini Walikota Bandung berpasangan dengan Oded dari PKS.Saat menjadi Walikota Bandung dia diusung Partai Gerindra dan PKS bersama Wakilnya dan mengalahkan Istri Walikota Dada Rosada bersama Petahana Wakil Walikota Ayi Vivanda juga mengalahkan Sekda dan pasangan Independen lainnya.
Dan kini sejak Partai NasDem resmi mendeklarasikan Ridwan Kamil sebagai kandidat calon gubernur Jawa Barat 2018-2023 di Monumen Bandung Lautan Api, Tegalega, Kota Bandung. Rupanya Emil banyak jalan ke liling Jabar, mulai dari pesantren-pesantren. Lalu tugasnya jadi Walikota bagaimana? Info yang terpercaya, dipercayakan ke Sekda Kota Bandung yang juga dikabarkan akan maju jadi Walikota Bandung 2018-2023.
 
Kembali lagi ke Emil nasibnya di bursa pertarungan PILKADA #JABAR2018 saat ini pasca ditendang Golkar?
 
Partai yang pasti masih Nasional Demokrat (Nasdem) hanya 5 kursi. Aturan Komisi Pemilihan Umum (KPU), di Jawa Barat sendiri syarat calon yang diusung parpol harus memiliki 20 persen jumlah perolehan kursi di DPRD Jabar atau 25 persen perolehan suara parpol atau gabungan parpol.
Data dari hasil Pemilu Legislatif 2014 di Jabar, menyebut bahwa perolehan jumlah kursi Partai NasDem yakni 5 kursi. Mau tidak mau Nasdem harus berkoalisi dengan partai lain jika ingin mengusung Emil. Kemarin sebenarnya dengan Golkar, Nasdem, PPP sudah yang duluan paling aman.
Tiket Ridwan Kamil Sudah Terpenuhi, Dukungan Golkar yang dicabut bikin Emil harus putar haluan.
 
 
Sekadar gambaran saja catatan, dari hasil Pemilu Legislatif 2014 di Jabar, ada 100 kursi yang diisi oleh 10 partai politik. Jumlah kursi tertinggi di DPRD Jabar diraih oleh PDIP dengan jumlah 20 kursi. Setelah itu Partai Golkar dengan jumlah 17 kursi, disusul PKS 12 kursi, Demokrat 12 kursi dan Gerindra 11 kursi, PPP memiliki 9 kursi, PKB 7 kursi, NasDem 5 kursi, PAN 4 kursi dan Hanura 3 kursi.
 
Jadi jelas paling tidak Emil harus didukung 2-3 partai lagi. Siapa saja yang minat saya belum tahu. Namun jika ingin aman Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) apakah minat? Jika PDIP minat Emil akan aman.  Toh samapai kini PDIP belum menentukan siapa calon Gubernur Jabar, meski yang digadang saat ini baru Puti Soekarno putri anggota DPR RI yang juga cucu Bung Karno anak dari Mas Tok alias Guntur Soekarno putra.  Jika PDIP  tidak bisakah Emil menjalani kenyataan ini? Atau Emil kembali ke kota Bandung sebagai Walikota yang merupakan petahana jika maju di kota Bandung lagi.
 
Itulah kira-kira sosok nasib Emil eh Ridwan Kamil yang kini Walikota Bandung. Dan semoga saja Emil mendapat dukungan partai lain jika maju karena kursi Nasdem kurang sehingga syarat terpenuhi dan ia bisa menggang bertarung menuju Gedung Sate.
 
Dan ingatlah ada istilah yang keren saat ini di Pilkada “Suka partainya tidak suka calonnya atau suka calonnya tidak suka partainya.”
 
Hmmm pelajaran politik dari semua yang ada dalam Pilkada saat ini. Bukan begitu Kang Emil….
 
Aendra Medita Kartadipura, Pusat Kajian Komunikasi Politik Indonesia (PKKPI) dan Warga Jawa Barat Asli
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *