Aktivis Pergerakan Islam Bersatu Desak Presiden Copot Kapolri Tito

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

MEDITANEWS.COM – Aktivis Pergerakan Islam Bersatu (API BERSATU) mendesak Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) untuk segera memberhentikan Tito Karnavian dari jabatan Kapolri. Pernyataan sikap tersebut ditegaskan oleh kalangan tokoh ormas Islam di Jakarta, Rabu (30/1/2018).

Kapolri Jenderal Tito Karnavian dinilai telah berulang kali meresahkan umat Islam dan telah mengotak-ngotakkan  umat Islam Indonesia, serta berbagai ucapan dan tindakannya yang tidak layak. Bahkan, terakhir Kapolri Tito dalam pidatonya secara terbuka menuduh ormas-ormas Islam di luar NU dan Muhammadiyah sebagai kelompok yang ingin merontokkan NKRI.

Selain itu, Ketua API Bersatu, DR Asep Syaripudin menambahkan, berdasarkan resolusi umat terhadap pernyataan Tito Karnavian, Aktivis Pergerakan Islam Bersatu (API Bersatu) mengajak umat Islam, pada hari Kamis, 1 Februari 2018, untuk melakukan sholat zuhur di Cut Meutia, dan dilanjutkan ke Istana Negara guna mengantar surat untuk presiden agar mencopot KAPOLRI.

Berikut PERNYATAAN SIKAP Aktivis Pergerakan Islam Bersatu (API BERSATU) :

Bismillahirrahmanirrahim

Mencermati respon psikologis, moral dan akademis umat Islam Indonesia terhadap pernyataan Kapolri, Jenderal Pol. Tito Karnavian yang viral di media sosial, telah menafikan peran komponen-komponen umat Islam di luar NU dan Muhammadiyah, maka dengan rasa tanggungjawab kami kepada umat Islam, bangsa dan negara menyatakan sikap sebagai berikut:

1) Menolak dengan tegas tuduhan yang tidak berdasar dari Kapolri Jenderal Tito

Karnavian kepada ormas-ormas Islam di luar NU dan Muhammadiyah sebagai kelompok

yang ingin merontokkan NKRI.

2) Mengecam Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang telah berulang kali meresahkan

umat Islam dan telah mengkotak-kotakkan umat Islam Indonesia terbelah menjadi dua

kubu, yaitu umat Islam yang tetap mempertahankan NKRI dan umat Islam yang ingin

merontokkan NKRI.

3). Mengecam pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karnavian tentang pemahaman Sejarah

Indonesia yang keliru bahwa hanya NU dan Muhammadiyah sebagai pendiri negara,

sekaligus menjatuhkan kredibilitas Korps Kepolisian RI di mata rakyat Indonesia

khususnya umat Islam

4). Mengecam Kapolri yang seharusnya sebagai Pengayom, Pelindung, dan Pemersatu

umat, justru menjadi Pemecah belah umat, yang berpotensi MERONTOKKAN Keutuhan

NKRI.

Maka Kami berkesimpulan bahwa:

Saudara Tito Karnavian tidak layak dan tidak pantas menduduki jabatan sebagai

KAPOLRI .

Berdasarkan fakta di atas maka kami:

Mendesak Presiden RI Bapak Joko Widodo untuk segera memberhentikan Saudara Tito Karnavian dari Jabatan Kapolri.

Demikian Pernyataan sikap ini kami sampaikan untuk menjadi perhatian bapak Presiden RI dan seluruh rakyat Indonesia agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi di masa mendatang.

Billahittaufiqwalhidayah, Wassalam

Jakarta, 31 Januari 2018

Aktivis Pergerakan Islam Bersatu (API BERSATU)

Ketua : Ust. Asep Syaripudin

Sekretaris : Dr. KH. Bukhori Abdul Shomad, MA

Anggota:

  1. Prof. Dr. H. Amin Rais. MA
  2. KH. Drs. M. Siddiq. MA
  3. Muh. Usamah Hisyam
  4. Ir. Ahmad Doli Kurnia.
  5. KH. Shobri Lubis. Lc
  6. KH. Misbahul Anam
  7. H. Slamet Maarif, S.Ag., MM
  8. H. Candra Kurnia
  9. HM. Mursalin
  10. Ir. H. Idris Zaini, MM
  11. Ir. Muhammad Saleh Khalid
  12. Abdul Malik, SE, MM
  13. Taufiq Rahman
  14. Ir. Supriyadi
  15. Drs. Manimbang Khariyadi
  16. KH. A. Bukhori Muslim. MA
  17. KH. Farid Okbah, MA
  18. Hardi Kusna
  19. Ir. H. M. Nur Sukma
  20. Ibu Khamsani
  21. Ir. Umi Hafid
  22. Abu Bakar Herumaking
  23. Anwar Esfa
  24. Fachri Sangaji
  25. Syaefudin
  26. Djaya Rahmat
  27. Bachtiar
  28. J. Aryanto

Selain API BERSATU ada juga kritikan Pidato Kepala Kepolisian RI Tito Karnavian dari cendekiawan Azyumardi Azra. dilansir laman Tempo Azyumardi menyebut, banyak tokoh di Indonesia tak paham akan sejarah negerinya sendiri. Tito Karnavian, kata Azyumardi, salah satunya.

“Banyak orang tidak tahu tentang eksistensi ormas Islam di Indonesia. Bukan hanya Kapolri yang kebetulan tertangkap ketidaktahuannya. Seandainya ditanyakan kepada pejabat atau tokoh-tokoh negeri ini, sedikit dari mereka yang paham,” ucap Azyumardi saat dihubungi Tempo pada Rabu, 31 Januari 2018.

Azyumardi menjelaskan, tidak hanya NU dan Muhammadiyah, sejak dasawarsa pertama abad ke-20 sudah berdiri organisasi kemasyarakatan Islam lain di berbagai penjuru Nusantara, seperti Syarikat Dagang Islam yang kemudian berganti nama menjadi Syarikat Islam. Selain itu, ada Jam’iyatul Khair, Persatuan Ummat Islam, Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Mathlaul Anwar, Persatuan Islam, Al-Washliyyah, Al-Khairat, Persatuan Tarbiyah Islamiyyah, Al-Ittihadiyyah, Nahdlatul Wathan, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, dan Hidayatullah.

Tito juga berencana mengumpulkan sejumlah ormas Islam untuk meluruskan masalah yang timbul akibat pidatonya itu. “Nanti akan ada pertemuan dengan organisasi-organisasi Islam. Kami akan bersilaturahmi,” tutur Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto di Lapangan Tembak Senayan, Jakarta Selatan, Selasa, 30 Januari 2018.

Setyo mengatakan video pidato Tito tersebut sebenarnya sudah ditayangkan sejak dulu. Pidato itu disampaikan Tito di kantor Pengurus Besar NU pada 2016. “Waktu itu, kalau tidak salah, ada nota kesepahaman dengan NU. Saya sendiri saat itu masih menjabat Kepala Divisi Hukum Polri,” ucapnya.

Video Tito berpidato sempat viral dan menuai protes. Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain bahkan menulis surat terbuka melalui akun Facebook-nya terkait dengan pidato Tito tersebut.

“Melalui surat terbuka ini, saya, Tengku Zulkarnain, PROTES KERAS atas pernyataan Bapak Kapolri dan meminta Anda meminta maaf serta menarik isi pidato Anda, yang saya nilai tidak ETIS, merendahkan jasa para ulama dan pejuang Islam di luar Muhammadiyah dan NU, mencederai rasa kebangsaan, serta berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa serta Negara Indonesia,” ujar Zulkarnain dalam akun Facebook-nya.

Zulkarnain merasa kecewa dengan pernyataan Tito Karnavian yang seakan-akan tidak menganggap perjuangan ormas Islam lain. “Saya sangat kecewa dan keberatan atas pidato Kapolri, yang saya nilai provokatif, tidak mendidik, buta sejarah, tidak berkeadilan, dan rawan memicu konflik,” tutur Zulkarnain melalui keterangan tertulis pada Selasa, 30 Januari 2018.

berbagaisumber: obsessionnews.com/tempo/fb

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *