REPUTASI

Bapak Iklan Dunia David Ogilvy mengatakan bahwa konsumen membeli manfaat fisik dan psikologis, bukan sekadar membeli sebuah produk. (Dalam hal ini coba kita objek dalam pilpres dari pasangan saat ini).

Maka akan muncul satu kampanye besar yaitu promosi, bahasa Ogilvy adalah bahasa periklanan yang mana harus menjadi investasi jangka panjang dalam mengembangkan dan mempertahankan citranya.

Citra yang baik yang sebuat reputasi yang dibuat-buat, namun di asudah ada dalam jiwa dan marwahnya.

Dalam paradigma pemasaran dan periklanan kontemporer, realita merepresentasikan atribut produk atau jasa, sementara citra lebih memproyeksikan value dari brand dan dalam hal ini untul pilres adalah personality.

Promo iklan selalu kaya dengan pencitraan psikologis begitu kata Engel, 1994, dalam arti iklan bukan hanya sebagai penyampai pesan tapi sekaligus pembentuk citra.

Saya sepakat sementara, karena memang itu iklan ya seperti itu. Namun Reputasi adalah segalanya, orang membeli produk atau jasa lebih karena citranya bukan manfaat.

Pun demikian dalam memilih presiden orang hanya suka dan kagumnya bukan karena dia akan memanfaatkannnya. Lantas pilihan itu jatuh pada sikap di bilik suara.

Sampai sini ada yang setuju? Atau tak setuju ya terserah karena ini multitafsir.

Jika person harus ber-citra yang menjadi ukuran personality seseorang maka media pencitraan yang paling canggih saat ini adalah masalah tetap dalam promo figur dan media adalah ruang besarnya.

Dan siapa yang paling banyak promo?Akhirnya meski ini bukan kesimpulan namun catatan sementara ini Reputasi adalah segalanya dan jika reputasi baik maka barang itu baik, jika reputasi jam terbang dan perjalanan begitu yang silakan nilai sendiiri.

Aendra Medita | Founder & Consultant Senior Public Relations pada MEDITAPR (meditanews.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.