Prof. MASAAKI OKAMOTO

Adalah Masaaki Okamoto seorang yang kini sudah menjadi professor penting di Kyoto University. Cukup lama saya kenal dia yaitu sejak 1997, saat itu dia masih kandidat doktor, usianya masih muda belum genap 27 tahun.

Okamoto san, biasa saya menyapa, namun semalam saya ganti menyebut dia dengan panggilan Prof. Okamoto. Malam 2 April 2019, saya diundang makan malam di Okuzono Restoran tepatnya di pojokan Senopati arah Kertanegara dan Arah Wolter Monggonsidi Kebayoran Jakarta Selatan. Okuzono restoran baru, bagus dan nyaman tempatnya.

Prof. Okamoto adalah ahli dalam ekonomi politik di Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Kyoto University Jepang. Saya sebagai jurnalis muda saat itu senang bisa kenal dia, nambah ilmu lain dan wacana baru.

Sejak tahun 1997 itu juga saya sedikit, –sekali lagi saya katakan sedikit– membantunya dalam soal penelitian yang mana di bertemu dengan sejumlah tokoh-tokoh, mulai dari LSM, ormas yang ada di Jawa Barat maupun di tanah air, termasuk saya mengenalkan penyair Banten Toto ST Radik yang akhirnya bisa membawa Okamoto bertemu dengan Sang jawara Banten yaitu ayah dari Atut yang mantan Gubernur Banten Abah Chasan.

“Sempat berjumpa sekali sama Abah Chasan, waktu meneliti soal Banten,” ujar Okamoto lama meneliti terhadap pisahnya Banten dari Jawa Barat. Dia paham kisahnya dalam tatanan kajian Banten menjadi provinsi baru. Termasuk belum lama juga ia menyumbang dari lembaganya di Jepang bagi korban Tsunami Banten.

Peran Toto bukan hanya itu, jaringan Banten yang waktu itu masih bergabung dengan Jawa Barat membawa Okamoto mengenal lebih dekat tentang Banten. Toto kalau tak salah membawa Okamoto ke Rumah Dunia-nya Golagong yang juga kawan saya, lalu kampus Univeristas Tirtayasa dan sejumlah tokoh lainnya.

Okamoto pintar bahasa Indonesia, kadang saya kasih sedikit-sedikit kasih bahasa yang akrab soal bahasa Sunda, karena saat itu ia konsen di Jawa Barat jadi sedikit memberikan arti bagi seorang peneliti jika ada di tatar Sunda.

Sejumlah teman di Jepang yang ada hubungan dengannya jika ke Indonesia pasti akan disuruh jumpa dengan saya. Okamoto ini jaringannya luas, peneliti di dunia dari sejumlah negara ia banyak kenal dan beberapa kali saya sering diajak untuk berjumpa. Di lembaga yang banyak sekali peneliti seperti LIPI ia juga dikenal.

Kisah lainnya sampai kini kawan-kawannya dan bahkan mahasiswa yang akan melakukan penelitian tentang Indonesia banyak yang ia kenalkan pada saya dan di rekomendasi untuk dibantu oleh saya. Saya lalu berpikir sebenarnya saya bukan siapa-siapa, tapi Okamoto ini menganggap saya punya banyak jaringan sehingga sampai kini lebih dari 17 orang yang dikenalkannya masih terjalin komunikasi baik dengan saya. Mereka adalah orang Jepang, ada dosen, jurnalis di NHK ada juga yang bertugas diplomatik di kedutaan dll.

Belikan Koran Pikiran Rakyat

Kini kisah yang menarik dari Okamoto dengan saya. Secara khusus ia meminta saya untuk membelikan koran Pikiran Rakyat (PR) setiap bulannya (30 edisi) dan setiap bulan saya harus mengirimnya ke Kyoto Jepang, tentunya ongkos dan langganan diganti, dan semua itu diganti dan sangat besar. Bayangkan saat itu untuk ongkir ke Jepang dan langganan PR dibayar dengan mata uang Jepang Yen. Saat itu internet belum seperti sekarang, media konvensional atau analog ini masih sangat sedikit pula.

Okamoto yang konsen dengan Jawa Barat melihat perkembangan lewat media PR ini. Soal akan adanya rencana Banten lepas atau berpisah dari Jawa Barat dan berdiri menjadi Provinsi baru. Akhirnya Banten menjadi provinsi sendiri Okamoto paham betul, seperti saya sebutkan kisah masuknya diatas Okamoto ke Banten lewat Toto, namun juga ia pun punya jaringan pula.

Makan malam kami makin seru dengan kisah-kisah kekinian yang terjadi. Politik menjadi konsumsi tambahan di tengah makanan Jepang. Kami diskusi tentang yang hangat Pilpres. Sebagai Jurnalis mencoba membuka dua cakrawala yang masih menganut jargon lama “Media is the forth estate”, atau Media is a watch dog” semoga saya masih pegang ini.

Saya teringat tahun 2014 saya pernah diminta bicara sekaligus diundang menjadi pembicara paska Pilpres 2014 di Kyoto University, tepatnya di lembaga CSEAS- Kyoto University yang bicara Associate Prof Okamoto saya dan Prof Jun Honna dari Ritsumeikan University, Jepang. Temanya waktu itu “The 2014 Presidential Election and the Role of Social Media. Banyak mahasiswa Okamoto dan juga sejumlah kawan-kawan dari Indonesia yang sedang studi di sana hadir.

Semalam dalam diskusi sambil makan hal ini di kilas balik dan rupanya dia sudah tahu banyak ada perubahan besar saat ini. Hmmm syukurlah…Saya juga katakan ini belum tahu siapa yang kuat karena keduanya “mengaku kuat”, kita akan lihat nanti saja 17 April 2019 apa yang terjadi. Sebagai peneliti dia hanya tersenyum.

Dan kita lanjutkan makan ikan pari yang di bakar tak terlalu gosong tapi enak dan colek ke mayonnaise yang tersaji sebagai menu tambahan.

Akhirnya bravo Prof Okamoto ini hanya kisah masa lalu yang saya ingat-ingat, maklum saja kalau ada yang tertinggal atau lupa. Arigatou Gozaimasu!

JAKARTA, 2 April 2019

Aendra Medita Kartadipura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.