Anas dan Koto

Ada yang menarik dalam sidang di pagi itu (20/6/19). Kisahnya mungkin kalau diluar sidang yang dinyatakan oleh kedua saksi, dipastikan akan diadukan dan masuk dalam ranah ITE.

Loh kok bisa ya bisa karena disebutkan bahwa keduanya melakukan pernyataan tidak menyenangkan. Hmmm kenapa tidak menyenangkan, ya karena keduanya menyudutkan pasangan 01. Jika pasangan itu disudutkan pasti akan ada yang mengaudakan. Ups…tapi kali ini tidak bisa diadukan karena ada dalam ungkapan kesaksian di sebuah Mahkamah Besar (MK) yang sangan tinggi dan sangat mulia dan super terhormat.

Kisah Anas, awalnya membuka kesaksian lewat sebuah pelatihan saksi yang digelar sebuah Hotel di kawasan Kelapa Gading. Anas adalah wakil dari salah satu partai pendukung 01 (PBB) pimpinan Yusril Ihza Mahendra (YIM). Yang mengejutkan dari kesaksian Anas bahwa ada salah satu pejabat istana bilang “kecurangan adalah bagian dari demokrasi”.

Anas juga mengungkap bahwa ada Gubernur aktif di Jawa bagian tengah yang seolah kasih spirit bahwa dalam pelatihan mengaku dirinya pernah mengikuti pelatihan saksi yang pernah diadakan Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko “Jokowi” Widodo-Ma’ruf Amin dan menyebut saat itu ia mengikuti materi yang disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam pelatihan tersebut. Ganjar saat itu menyampaikan agar Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak boleh netral dalam Pilpres 2019. Sontak bukan hanya kaget. Tapi juga bikin sejumlah hakim dan para pembela di medan MK bertanya-tanya.

Seorang kawan Hendrajit bahkan menulis di timeline Faceboknya dimana ia sangat tajam menyoroti hal ini. Naif kalau pengacara nanya menyecar Anas apa ada materi latihan gimana caranya curang sebagai follow up dari statemen Bang Muldoko tadi. “Ya kalaupun ada, pasti di rapat setengah kamar lah. Nggak mungkin di sesi seminar. Dan kalaupun ada, Anas belum tentu diikutkan,”tulis Hendrajit.

Menurutku, justru penggunaan frase kecurangan merupakan bagian demokrasi itulah yang harus dikejar terus. Lewat cara dan sarana apa frase itu dijabarkan jadi strategi. Setiap ajaran yang menjelma jadi doktrin, pasti dikembangkan jadi strategi dan sistem.

Baiklah sekarang soal Koto. Jaswar Koto lengkapnya adalah saksi ahli BPN Prabowo-Sandiaga, Koto secara jelas dan tajam bahwa tentang dugaan kecurangan yang dilakukan oleh KPU dalam menaikkan suara paslon nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf. Hal itu disampaikan Koto saat menjadi saksi ahli dalam sidang sengketa hasil Pilpres 2019, di Mahkamah Konstitusi, Kamis (20/6/19) pagi.

Koto mengatakan bahwa pola suara di KPU sengaja memenangkan paslon 01, Jokowi-Ma’ruf. Ia mengungkapkan, pihaknya telah mengambil dua data yang sama.

“Kami mengambil 2 kali data dan 2 pola yang sama. 01 dinaikkan, 02 diturunkan,” kata Jaswar di ruang sidang MK.

Menurutnya, pola satu sengaja mengubah entry data, sementara pola yang lainnya adalah mengubah data C1. “Pola satu dengan data merubah entry dan satu dengan mengubah C1,” bebernya. Lagi analisa Hendrajit bahkan mengatakan bahwa Koto bukan saja ahli, tapi juga ikhlas. Makanya seganas apapun cecaran pertanyaan komisioner KPU macam Hasyim Asyari, atau tim pembela 01, tidak membuatnya grogi sama sekali. Malah sering balik nanya, maksudnya tadi gimana ya. “Sepertinya, para ahli ikhlas tidak mempan sihir atau hipnotis,” jelasnya.

Kira-kira saya melihat begitulah kiranya sebuah nyanyian sidang MK dijujung, tanpa mengesampingkan saksi lainnya, terlihat  sekelompok panggung MK terihat seperti sebuah drama panjang namun terbatas waktu. lantas bagaimana MK akan berdiri mengangkat timbangan di tangan kiri dan kanan yang adil dan semoga mata yang ada di kepala mereka tidak tertutup dan ada suara dari langit yang bisa mengetuk.

Saya jadi teringat kisah Drama dalam bahasa Indonesia “Lingkaran Kapur Putih”Caucasian Chalk Circle karya Bertold Brecht.

Sebuah kisah dimana negara terjadi peperangan akibat perebutan kekuasaan yang bermula dari kudeta bupati, keluarga raja terpaksa mengungsi ke tempat yang lain dan dalam ketergesahan tersebut sang putri terpaksa meninggalkan bayinya karena kesibukan menyiapkan pembekalan dipengungsian, sementara para prajurit berperang,pada akhirnya sang raja pun dipenggal kepalanya. Lantas anak yang ditinggalkan tersebut diambil oleh pelayan kerajaan bernama Darti dan riwayatnya hingga tumbuh menjadi anak-anak.

Ketika sang putri (ratu keraajaan) menemukan kembali putra mahkotanya dia berencana untuk mengambilnya kembali dengan tujuan guna medapatkan hartanya kembali. Darti ibu angkatnya tak terima ketika anaknya diambil oleh sang putri, mengadulah ke pengadilan dan terjadilah persidangan guna memperebutkan hak asuh anak tersebut. Sidangpun dimenangkan oleh Darti dan kekayaan putra mahkota disita menjadi milik kota, untuk dijadikan taman bermain anak-anak.

Itu hanya kisah yang melintas, tentu  fokus cerita sebenarnya lebih daripada sebuah warna kisah itu. Hanya sebuah cerita tentang keadilan dan juga berkenaan tentang siapa yang paling menang pada Pilpres itu, maka dialah yang berhak menjadi yang meneruskan negeri ini. 

Soal Pilpres memang yang bertanya-tanya maka di Mahkamah Kontitusi lah siapa sebenarnya yang menang dan apa benar ada yang melakukan curang? Jika kita berdebat maka tentu masih multitafsir. Tapi paling tidak Anas dan Koto telah hadir dalam ruang tafsir yang sudah disampaikan dan kita tunggu apa keputusannya MK di 28 Juni 2019. Tabik!

AENDRA MEDITA KARTADIPURA, senior wartawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.