OLEH AENDRA M KARTADIPURA,  GROUP EDITOR IN CHIEF

Sepertinya ini memang mengkhawatirkan kondisi energi kita saat iniTapi kita masih punya harap untuk bangsa ini agar kita tidak terjerembabbahkan terpuruk dari kekayaan energi yang sebenarnya kita kaya akan lumbung energi ituDua pandangan tokoh ini saya kutip bisa jadi cermin atas pandangannya.

Pada 29 Mei 2016  kira-kira setahun lalu Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (GN) menyebutkan bahwa prediksi energi kita akan habis pada tahun 2043.

Bagi saya pernyataan ini sangatlah patut direspon oleh sejumlah pihak dalam hal ini pelaku energi atau siapapun yang peduli akan energi dalam konteks besar ini adalah satu PR kita bagi bangsa.

GN rupanya telah membaca ini bukan asal cangkem karena baginya referennsi besar kondisi tersebut memicu perang untuk mengambil alih energi negara-negara yang berada di garis ekuator, begitu kira-kira alasan GN sehingga memberikan pandangan yang gamblang. Garis ekuator itu adalah salah satunya yang dilirik adalah Indonesia.

Panglima juga secara tegas  saat berikan penyampaian ini kepada kepada 1.940 peserta Apel Mitra Informasi Garuda Sewasana saat itu bertajuk sangat keren   Memahami Ancaman,Menyadari Jati Diri Sebagai  Modal Membangun Bangsa Pemenang” di Gedung Braja  Mustika, Bogor, Jawa Barat.

Jenderal GN juga menyebutkan kandungan kekayaan alam yang dimiliki     oleh Indonesia sudah disadari oleh Presiden Indonesia pertama Ir. Soekarno yang  mengatakan bahwa kekayaan alam Indonesia suatu saat nanti akan membuat iri negara-negara di dunia.

Demikian pula Presiden Jokowi pada saat dilantik di Senayan menyampaikan, kaya akan sumber daya alam justru dapat menjadi petaka buat kita.

“Itu semua, sekarang sudah menjadi kenyataan. Dengan demikian, maka kita harus waspada dengan kekayaan alam yang kita miliki karena menjadi bahan rebutan oleh negara-negara asing,” kata GN.

Panglima juga menyampaikan, seiring dengan lonjakan penduduk dunia yang berkembang begitu pesat dan jumlahnya sudah melebihi kapasitas ideal, maka logikanya pertambahan penduduk itu juga memerlukan pasokan pangan, air dan energi untuk menompang hidupnya. Hal inilah yang akan memicu konflik antar Negara.

“Ke depan, energi itu bisa digantikan dengan hayati dan kekayaan alam hayati ada di negara ekuator, terutama di Indonesia. Maka Indonesia akan menjadi lumbung pangan, air sekaligus juga lumbung pengganti energi hayati,” tambahnya.

GN menilai bahwa ke depan kekayaan Indonesia benar-benar menjadi ajang rebutan negara luar/negara asing untuk menguasai dan memiliki dengan berbagai cara dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup warga negaranya. Oleh sebab itu,  “Perang ke depan  adalah perang pangan, air dan energi di istilah kan perang ekonomi dan lokasinya di Indonesia, inilah ancaman bangsa Indonesia,” beber GN.

Pandangan GN malah seolah diamini oleh tokoh muda cerdas ini bernama Nugroho Prasetyo dengan pemikirannya yang luar biasa ia membedah apa yang terjadi di dalam dunia energi kita saat ini.  Salah satunya adalah menyentil soal kasus Pertamina.

BUMN plat merah ini menurutnya kini bukan lagi alat negara yang menguasai cadangan dan produksi minyak nasional. Namun  liberalisasi yang menjadi napas UU tersebut telah mereduksi kontrol Pertamina terhadap  cadangan minyak mentah,  apalagi menentukan volume ekspor dan tingkat harga pada skala dunia.

“Pertamina dirombak menjadi perusahaan dengan skala terpecah-pecah, sementara   perusahaan-perusahaan minyak  asing semakin terintegrasi secara vertikal.

Mereka mencapai efisiensi dengan menyatukan kegiatan sektor hulu dan hilir. Mereka menambang minyak sekaligus mengurus distribusi dan penjualan. Perusahaan minyak dunia yang dikenal sebagai “The New Seven Sisters” adalah perusahaan-perusahaan besar dan terpadu yang mengontrol langsung cadangan dan produksi minyak,” ujar Nugroho Prasetyo.

Seharusnya Pertamina memberlakukan mereka bertindak sebagai kontraktor di bawah kontrol manajemen Pertamina.  Perusahan asing tidak boleh menentukan kebijakan produksi karena wilayah otoritas ini milik Pertamina yang bertindak sebagai kepala operator.

“Tapi, implikasi pemberlakuan UU No. 22/2001 justru memposisikan Pertamina tidak otomatis menjadi kepala operator setiap kegiatan produksi, namun hanya sebatas peserta biasa dalam tender wilayah kerja, kini kedaulatan energi kita benar-benar telah runtuh,” ungkapnya.

Lantas apa kekuatiran tahun 2043 yang akan habisnya energi kita dan sudah terjadi runtuhnya pengelolaan energi bangsa ini semakin kasat terlihat.

Saya hanya ingin katakan kita harus realistis saja akan kekuatan energi kita yang kaya “sebenarnya cepatlah” di nasionalisasi, jangan diperpanjang para asing bercokol dalam energi.

Target besar 35GW soal energi listrik juga jangan sampai terkandaskan sebab sepertinya kendor lagi kondisi saat ini, atau karena ada akibat laju targetnya yang kurang fokus. Dan semoga semua bisa diatasi.

Saatnya energi kita waspada jika 2043 kita tidak mampu, kita tergerus. Makanya tak heran Freeport ngotot ingin kontraknya sampai 2041 karena kandungan dia sampai 2043 masih ada. Apa ini sebuah prediksi yang mendekati kenyataan? ***

Baca lengkapnya edisi cetak MAJALAH ENERGYWORLD INDONESIA

sumber tulisan : energyworld.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here